Pukul sepuluh pas bel berdering di seluruh sudut. Seisi ruangan mulai sibuk. Mereka membereskan barang-barangnya masing-masing.
Moerz sengaja berlama-lama di belakang sana. Pura-pura memeriksa sesuatu di laci mejanya yang jelas tidak ada apa-apa di sana, sedikit mengibaskan jaketnya sebelum ia kenakan, dan merapikan bagian depan rambutnya.
Selama dua hari itu Moerz terlalu sibuk dengan soal-soal yang kebanyakan ia tidak pahami. Terkurung hampa dalam kotak besar dingin yang tertutup rapat bersama angka, istilah, dan kode-kode membingungkan membuat seisi otaknya serasa ingin meledak.
Hanya ada satu hal yang membuat pening di kepalanya sedikit mereda. Ialah wajah seseorang yang duduk menghadap kemukanya empat meter di depan sana. Yang sedang sibuk mencoret-coret sesuatu, bergurau bersama temannya yang lebih tua, sedikit tertawa, dan kadang berputar mengawasi ruangan itu.
Moerz, entah sedang mencoba membunuh naif atau rasa malu atau entah apa dalam dirinya, memberanikan diri menghampiri wanita itu. Inilah satu-satunya kesempatan, batinnya. Dan meski agak gemetar di awal kalimat ia berhasil berbicara dengan wanita itu. Menanyakan beberapa hal yang wajar dan beberapa lagi yang agak kurang lazim. Ia senang mendengar suara lawan bicaranya yang lembut dan sesekali memandang wajah yang terbingkai jilbab hijau transparan itu. Di depan pintu Moerz memberikan alamat dunia mayanya. Setelah itu ia turun mencari temannya dan pergi begitu saja.
Pria pemalu itu merasakannya lagi. Entahlah, mungkin ini hanya ketidakwarasannya saja. Yang jelas ia senang sudah berhasil membunuh sesuatu dalam dirinya. Hanya dalam dua hari, berbicara sebentar di akhir pertemuan, dan setelah itu mungkin mereka tak akan bertemu lagi. Satu hal yang disesalinya adalah ia lupa menanyakan namanya.
Ah sudahlah, lagipula usianya beberapa tahun di atasnya dan jelas ia jauh lebih dewasa. Rasanya tidak mungkin. Seandainya saja ia tahu atau… mungkin ia tahu.