Celoteh Konyol Untuk Anak Guru Kami

Sudah dua tahun ini Bu Yeni, wali kelas kami, di buat pusing oleh anak-anak asuhannya yang bengal-bengal. Kelas yang paling berisik di Sekolah Menengah Kejuruan tersohor di Bekasi. Tak pernah diam sampai-sampai kelas kami menjadi terkenal di kalangan guru dan hampir setiap hari menjadi topik obrolan dikala mereka berkumpul di ruang guru. Sebab hanya kelas kamilah yang berani menertawai guru matematika yang sangat sensitif ketika guru itu salah bicara.

Hari ini kami berkunjung ke rumah Bu Yeni. Bukan karena sudah kelewat liar sampai harus mengepel lantai rumahnya tetapi karena beliau baru pulang dari rumah bersalin. Melahirkan seorang anak manis yang sudah bosan hidup di dalam perut ibunya. Sehingga anak itu lahir melalui perut ibunya yang terbelah, bukan keluar lewat belahan yang lainnya.

Rumah ini tidak cukup besar untuk menampung sebagian kelas kami. Ditambah lagi murid-murid kesayangannya itu sangat pecicilan. Tetapi di balik keberingasan kami terdapat setumpuk doa untuk anak itu. Doa-doa yang agak sedikit konyol.

Di tengah obrolan asyik nan ramai Ringga, seorang anak kepala TU yang sangat dihormati berkata, “Lihatlah kawan, anak ini akan tampan seperti diriku.”

“Takkan tampan anak itu kalau dia sepertimu. Bercerminlah, begitu buruknya wajah kau. Terlalu banyak jerawat.” Tangkas Rio, teman kami yang paling besar ocehannya. Kontan kamipun terpingkal-pingkal.

“Biarlah wajahku agak buruk asal anak guru kita ini tak punya lubang hidung sebesar yang kau miliki. Lebih besar dari mulutmu yang menguap,” balasnya.

“Lebih besar mana dengan mulut Hanafi yang seperti Tukul itu,” Rozak, ketua kelas kami ikut berceloteh.

“Yang jelas janganlah giginya menjadi secemerlang Ramdan, silaunya mengalahkan sinar petromax,” kataku.

“Gigi bersinar lebih baik dari pada leher jerapah seperti kau,” balas Ramdan.

“Itu lebih nyaman daripada tak berleher seperti Setio,” teriak Hanafi. Kami langsung memandang kepala Setio yang langsung tersambung ke pundaknya. Dan tawa keras tak terbendung.

“Jangan dijemur saat tengah hari Bu!” Kata Aris serius.

“Kenapa memang?” Tanya Bu Yeni.

“Sudah terbukti Muklis adalah contoh hasilnya. Kulitnya selegam orang negro,” jawabku. Semakin berisiklah rumah itu dipenuhi tawa tak tahu diri.

“Masa menjemur bayi tengah hari bolong,” kata Bu Yeni seraya terkikik.

“Tak apa, anak ibu akan mewarisi jenggot saya yang indah Bu. Selebat hutan Amazon,” tangkis Muklis, “asal jangan menjadi tambun seperti Cepi,” lanjutnya.

“Kau akan lebih menyukai tubuhmu yang gembrot daripada suaramu tak jelas seperti Bobby,” kata Ilman.

“Hah… hurang agjar’ loh.” Mendengar bahasanya yang sulit dimengerti dan terlalu cepat diucapkannya, kami terpingkal sejadi-jadinya sambil memukul ubin.

Masing-masing dari kami menyadari kelemahan yang dimiliki setiap orang sehingga celaan tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari di kelas. Dan di balik itu semua, kami senang karena sudah menghibur Bu Yeni. Meski anaknya berkali-kali terbangun dari tidurnya karena tawa-bahak kami.

22 komen sejauh ini

  1. qzink666 on Maret 24, 2008

    Hwaduh, antara guru dan murid bisa seakrab itu yak.. Hebat euy.. :D
    eh, sebaiknya ga usah kata ‘negro’ deh, bro.. :P

  2. Tigis on Maret 24, 2008

    ada positifnya jg terbiasa menerima cela’an dlm kemasan becanda’an. Kalo ada kesulitan hidup jadi serasa ringan.

  3. elyswelt on Maret 24, 2008

    buat cewek leher jerapah nan jenjang khan impian ya, biasanya peragawati2 yang punya leher jenjang ini :)

  4. aRuL on Maret 25, 2008

    dialog2 yang mengasyikkan.. :)

  5. hanggadamai on Maret 25, 2008

    waduh maen fisik smua :)

  6. tukangkopi on Maret 25, 2008

    banyolan gaya tukul ya? :lol:

  7. Moerz on Maret 25, 2008

    ~qzink: ohya… saya lupa sudah sampai sara….
    ~tigis: betul juga ya mas…
    ~elyswelt: emang yah… kalo gitu saya bisa jadi pramugara…
    ~arul: hehehehe… padahal bukan bahasa sehari2..
    ~hanggadamai: begitulah mas… gak tau diri semua…
    ~tukangkopi: hohhoho.. memang ada yang mirip tukul…

  8. ridu on Maret 25, 2008

    nama gurunya mirip nama gebetan ridu sewaktu SD.. jadi kangen..

  9. Okta Sihotang on Maret 25, 2008

    Kau akan lebih menyukai tubuhmu yang gembrot daripada suaramu tak jelas seperti Bobby

    bagh..dalam bagh nge-kick-nya .. :)

  10. harriansyah on Maret 25, 2008

    anak ibu akan mewarisi jenggot saya

    warisanna jenggot.. hihih

  11. mbelgedez on Maret 25, 2008

    Sayah bilangin sama Bu Yeni, yaaa, situ nulisnya begenee…..

    Sehingga anak itu lahir melalui perut ibunya yang terbelah, bukan keluar lewat belahan yang lainnya.

    :lol:

  12. regsa on Maret 25, 2008

    kok cowok semua :)

  13. TonKin on Maret 26, 2008

    kunjungn balik–>>>
    boleh juga….

  14. away on Maret 26, 2008

    kasian tuh anak bu guru. Untungnya tuh akan pasti belum ngerti arti percakapan kalian
    hehehe

  15. gempur on Maret 26, 2008

    ah, gaya percakapan yang khas anak muda… mungkin yang ndak terbiasa segera marah dan naik pitam.. untunglah bu yeni dah tau kelakuan kalian.. wekekekekeke…

  16. Nazieb on Maret 26, 2008

    Ckckckckck… Anak-anak jaman sekarang..

    *geleng-geleng

  17. Moerz on Maret 26, 2008

    ~ridu: cie2…
    ~Okta Sihotang: sama nggak ngertinya sayah.. hehehe..
    ~harriyansyah: daripda bulu bawah…
    ~mbelgedez: silahkan om… orang yang ngoperasi itu saya… heheh…
    ~regsa: SMK kali… dulunya STM…
    ~tonkin: apanya… tampannya yah.. heheh…
    ~away: ngerti kok.. orang dia hooh2 ajah…
    ~gempur: bapak pernah muda juga kan…
    ~nazieb: emang dikau anak muda jaman kapan..?

  18. Santri Gundhul on Maret 27, 2008

    Wah…
    Biar PENCILAK-AN…ternyata Moerz ini tergolong
    anak..em…( mikir-mikir )…PETHAKILAN….hah..

    Nggelesod….godheg-godheg….

  19. ayaelectro on Maret 27, 2008

    asik tuh kalo nyeletuk2 sama guru..haha.

  20. Moerz on Maret 28, 2008

    ~santrigundhul: ya ampun… tapi tetep tampan kan..
    ~ayaelectro: iya donkk…

  21. stey on April 1, 2008

    hahaha..Bu Yeni cantik pasti yah?Hatinya juga baik banget dan sabar banget pasti sampe betah ngladenin murid2 kayak sampeyan2 hehehe..

  22. Menik on April 2, 2008

    Sudah dua tahun ini Bu Yeni, wali kelas kami, di buat pusing oleh anak-anak asuhannya yang bengal-bengal
    Dirimu tidak naik kelas adikku ? kok Bu Yeni sampe dua taun jadi walikelasmu sehhh ? :lol:
    Bu Yeni… ayo kita ciptakan sekolah ramah anak… dengan catatan anaknya kudu disiplin juga.. betul begituh ?
    Pisss :P

Leave a reply