Udang Mabuk

blogimgudang.jpg

Masih terpateri jelas dalam otak saya ketika pelajaran PPKn dikala SD dimana saya diajarkan kalau semua masyarakat harus bertenggang rasa dan harus bergotong royong.

“Siapa yang mau membersihkan sungai minggu besok?”

Itulah pertanyaan yang selalu diajukan guru saya setiap akhir pekan 2 minggu sekali. Dan tangan saya dan teman-teman saya terangkat secara otomatis tanda setuju.

Membersihkan sungai adalah sebuah keasyikan luar biasa bagi kami. Karena rumah-rumah kami relatif dekat dengan sekolah, hanya berseberangan dengan sungai yang membatasinya. Setelah bermain sepak bola di lapangan pinggir sawah sejak matahari baru terbit, tubuh kami menjadi kotor. Untuk membersihkannya kami mandi di sungai sambil membersihkan sampah-sampah yang menyangkut di tiang-tiang jembatan. Meski setiap hari sampah-sampah dari hilir sana menumpuk kami tak pernah bosan membersihkannya agar sungai kami terlihat lebih bersih.

Adakalanya warga yang tinggal di sekitar sungai itu ramai-ramai menceburkan diri kesana. Bukan karena aliran itu sudah terlalu kotor sehingga membutuhkan seluruh tenaga masyarakat untuk membersihkannya. Tetapi dikarenakan sebuah peristiwa langka yang sedang terjadi.

Udang mabuk, ya itulah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan hal ini. Pemuda-pemuda pangangguran sekitar sekali-kali menghabiskan minggunya dengan menaburkan bubuk-bubuk racun ke dalam sungai. Kegiatan ini biasa disebut cengkalim, sebuah kekurangkerjaan yang menyebabkan hewan-hewan air itu mabuk. Mereka menangkap ikan tawes dan kocolan dengan menjaringnya setelah ikan-ikan itu lemas. Cairan racun yang tercipta dari butir-butir putih itu terbawa sepanjang sungai sehingga udang-udangpun ikut mabuk.

Sungai jadi penuh sesak dipenuhi warga. Menangkap udang-udang itu sambil berteriak-teriak, menelusupi tangan ke dalam lubang. Hasilnya tidak terlalu banyak, tapi cukuplah untuk lauk setelah di goreng dengan sambal seadanya.

Hari ini saya baru merasakannya lagi setelah enam tahun sejak lulus SD. Rindu ikut berhambur bersama tetangga-tetangga, teman sepermainan, dan keluarga yang tumpah ruah disana. Disinilah kami bercengkerama bersama. Mendengar ocehan ibu-ibu yang memprotes mahalnya minyak tanah.

*makan udangnya pake sambel emak, moerz !*
*yang ngeracun bukan saya, ampun*

18 komen sejauh ini

  1. arif on Maret 23, 2008

    Butir-butir putih itu potasium kayaknya. Di jawa dikenal sebagai potas.

    Aktivitas meracun ikan itu sebenarnya nggak bagus karena bisa membuat semua ikan di sungai, termasuk udang, akan mati semua.

  2. Sawali Tuhusetya on Maret 23, 2008

    wah, kayaknya penggunaan racun semacam itu yang telah ikut andil memusnahkan ikan2 di sungai, hehehehe :lol: moga2 setelah disantap ndak bikin mabuk, mas moerz.

  3. Hanna on Maret 23, 2008

    Cerita sungai juga, ya. Duh, senangnya bisa menceburkan diri di sana. Tapi tak bisa berenang, hehe.

    Moerz.. Udang Mabuk itu, nama masakan China.
    Masakan ini di sajikan di depan mata di restorant2 Chinese Food yang agak high class
    Udang hidup di beri arak(arak khusus untuk memasak) terus diberi api. Seperti dibakar tapi bukan. Nah, sebelum dimasak, udang yang dituangin arak itu akan meminum arak itu. Jadilah udang mabuk. Lumayan mahal, satu porsi paling murah seharga tiga ratus ribuaan. Udangnya paling 15ekor. Itu Moerz perbedaan udang mabuk ala Moerz dan ala kami, hehe. Maaf, ya, Moerz, terkesan sok tahu dan sok narsis komennya. Tapi, begitulah apa adanya.

  4. Hanna on Maret 23, 2008

    Btw.. Moerz kok harus pakai meracuni segala. Rusak lingkungan air, Moerz. Sedih.

  5. maxbreaker on Maret 23, 2008

    Wah bahaya ga tuh makan udang hasil diracun?
    Itu merusak lingkungan juga lho…

  6. adit-nya niez on Maret 23, 2008

    Gak bisa diampuni itu! :mad:

  7. erander on Maret 24, 2008

    Cerita tentang udang mabuk, mengingat ku saat aku masih kecil di Pontianak. Kebetulan aku tinggal tidak jauh dari sungai. Pada musim-musim tertentu — terutama kemarau di daerah hulu sungai — air sungai akan bercampur dengan air laut.

    Akibatnya, segala jenis hewan air tawar menjadi puyeng karena air menjadi asin. Nah, pada saat inilah .. udang dan ikan yang ga kuat dengan air asin akan mabuk dan pingsan sehingga mengambang dipermukaan air.

    Jadilah .. penduduk disepanjang sungai itu ber’pesta pora’ menangkap udang dan ikan yang sudah mabuk. Tentu ini lebih aman dan legal. Karena tidak menggunakan racun :)

  8. hanggadamai on Maret 24, 2008

    oo jadi ini toh yg bikin ikan2 pd mati :mrgreen:

  9. tukangkopi on Maret 24, 2008

    kirain gak perlu potas ikan2nya udah pada mabok. secara sungai sekarang isinya racun semua :D

  10. dobelden on Maret 24, 2008

    wah bahaya itu… ngrusak hati lhoo :P

    dah lama banget gak pernah mabuk2an di sungai ma ikan :(

  11. Ndoro Seten on Maret 24, 2008

    jadi inget jaman nguras sungai dan bendungan
    memet di sungai dengan cara bawa irik atau jala
    aktivitas demikian disebut sebagai “nglingsang”

    salam kenal,

  12. regsa on Maret 24, 2008

    laa bukannya kemaren baru memperingati hari air ?

  13. elyswelt on Maret 24, 2008

    kaka2 laki2 ku dulu juga iktu rame2 nangkap ikan model kayak gini, aku sih cukup lihat saja :D

  14. mbelgedez on Maret 25, 2008

    Gimana kalok situ mbikin gerakan Anti Potassium….???

  15. Payjo on Maret 25, 2008

    Saya juga sering ikutginian di kampung. Cuman, sudah sering karena makin berkurangnya ikan di sungai sana. Malah punah barangkali.

  16. Santri Gundhul on Maret 27, 2008

    Protes..protes…!!!
    komentar saya di sini kok diumpetin….
    wah…tergolong PENIMBUN juga yah..dirimu…

    Ngeloyor…purik…

  17. Emakmu on Maret 30, 2008

    Loh? kok udangnya dihapiskan, piye to?
    anak kurang ajar!

    :twisted:

    *kejar Moerz sambil bawa pentungan*

  18. stey on April 1, 2008

    saya mau udangnya..
    asal jangan banyak2..

Leave a reply