REVOLVER

Mereka bukan anak buah Don Corleone yang siap mati demi menjalankan tugasnya untuk membunuh seorang uskup yang sesat. Mereka juga bukan sekumpulan siswa brutal yang ingin menyandera tiga puluh enam teman satu sekolahnya. Dan bukan juga polisi yang sedang mengejar penjahat. Tapi mereka lebih berbahaya dari satu truk penuh berisi tentara Myanmar yang hendak menyiksa warga desa.
Hanya enam orang yang berdiri di sini. Di tengah teriknya matahari, mereka siap berperang. Tidak ada kevlar atau helm hijau yang melindungi tubuh mereka. Di dalam genggaman masing-masing hanya terdapat sebuah revolver berbagai tipe. Tidak ada yang sama memang, mungkin mereka membelinya dari agen yang berbeda. Merakitnya sendiri atau yang sudah jadi.
Entah dendam atau apa sebabnya kedua kubu menampakkan wajah bengis masing-masing. Bertatapan dari kejauhan, sudah saling kenal sepertinya. Hanya berjarak beberapa meter saja mereka bersembunyi di balik karung-karung pasir sebagai pelindung mereka. Masing-masing pemimpin menatap kedua teman satu timnya dan mendapatkan kegigihan yang keras dari anggukan kepala mereka.
Haus kemenangan bercampur emosi membuat salah seorang dari blok barat tak tahan terus bersembunyi. Akhirnya dia berdiri memegang erat revolvernya. Dan satu tembakan melesat cepat menuju kepalanya. Blok timur sudah mengatur strategi yang lebih baik rupanya. Satu tewas, terkapar tak berdaya disamping temannya yang masih tiarap. Seketika itu desir-desir kemarahan meluap. Tembakan demi tembakan berderu kencang hingga mengalahkan bunyi boeing yang melesat jauh diatas sana. Keringat-keringat kematian membasahi pelipis mereka.
Bunyi debam kedua setelah beberapa menit yang pertama. Takdir di tangan Tuhan, tapi tetap tidak dimengerti olehnya. Ketua blok barat sudah jatuh dan tinggal dia seorang yang harus mempertahankan wilayahnya, harga dirinya dan teman-temannya yang sudah gugur. Dan kesialan apapula yang menghujamnya, senjata miliknya kehabisan emisi. Dengan cepat dia mengambil senjata teman-temannya. Satu di tangan kiri dan di kanan yang lainnya ia genggam.
Makin sengit pertempuran ini. Satu lawan tiga, siapa yang menang?
Anggota yang tersisa satu-satunya di blok barat itu menodongkan kedua tangannya, menekan pelatuknya. Senjata kanannya terlempar terkena hujaman tetapi yang kiri berhasil menumbangkan satu dari blok timur. Dewi Fortuna tiba-tiba bertamu ke kubunya, satu lagi jatuh. Tinggal satu lawan satu. Bercak merah yang membasahi kedua wilayah membuat emosi semakin memuncak.
Mereka maju, mendekatkan diri hingga berjarak satu langkah saja. Tidak seperti koboi yang berduel dengan membelakangi musuh masing-masing dan siapa cepat berbalik dalam hitungan yang sudah disepakati, mereka berdua yang tersisa hanya menghitung saja. Dan dalam hitungan ke enam (sesuai dengan jumlah mereka seluruhnya) mereka menekan picu masing-masing. Tapi tak ada yang keluar dari revolver mereka. Emisi-emisi mereka sudah habis dan ada yang terbahak di belakang mereka.
Air sepuhan merah itu sudah tumpah semua. Mereka yang tewas bangkit kembali. Tertawa besama-sama. Anak-anak kecil yang baru lepas TK itu lelah berperan sebagai gangster. Mereka beristirahat di pondok pinggir sawah, menengguk dinginnya sirup murahan sambil memandang padi yang mulai menguning.
*maenpistol-pistolan*





Vertammaaxxxx *mumpung nga ada yg punya
DORRRRR!!!!!!!!!!!!

hayooo mati nggaa… klo ngga mati aku laporin bu guru lhoo…
Hoalah… tak kira malah maen Ce Es..
wuihhhh keras bangett…
kayak filem-filemnya Jhon Woo adegan tembak-tembakannya.
~Bunda Ina:
~Malecious: *pura2mati*
~Nazieb: saya sudah lama tidak main cs..
~Almascatie: apanya yang keras? punyamu…? hohoh…
~Payjo: siapa tuh Jhon Woo? bukan jaman gue… hehehe… jaman bokap itu…
dasar anak2…
*sebel, kirain cerita koboi*
emang ceritanya appan ya
~Brainstorm: hohohoho…. ayo mana pistolnya…
~Realylife: itu cerita bocah maenan pistol aer om…
laa anak-anak kok sudah diajari perang-perangan…

auhhhhhhhhhhh………. sakit!!!
revolver VS bambu runcing sapa yg menang
wah jadi teringat masa kecil…
sayangnya ga bisa diulang….
Moerz….udahan maen pistol2 na…! Cepat pulang mandi…!
wakakakakakakak.. hebad benar endingnya…. segera mandi sana gih… bersiin badan..
~Regsa: supaya negeri ini kuat… hohoho….
~Deteksi: mati…
~Chatoer: menang slepetan…
~Maxbreaker: iyoo….
~Bunda Ina: iya bunda saya mandi…
~Om Gempur: hehehe….
kirain cerita mafia gitu…
Itu pict Pistol, magazen nya dalam genggaman, biasanya ingsi 9 butir peluru.
Kalok revolver nyang muter itu magazan nya, ingsinya 6 butir peluru….