A Very Crazy Bad Mood

blogcrazy.jpgPagi ini hujan datang lagi. Mungkin rintik-rintiknya masih rindu dengan atap rumahku setelah mereka pergi berhari-hari lalu. Belakangan ini memang hari-hariku membosankan. Penuh sesak dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ingin rasanya pergi jauh dari kenyataan dan sejenak tidak mempedulikan langit. Membuang plastik-plastik sampah dalam otakku yang penuh pikiran-pikiran hina karena sering melupakan Tuhan.

Dan Tuhan ternyata sangatlah adil. Tidak hanya mengirim pundi-pundi penuh berisi kebosanan untukku saja. Zat Mulia yang tidak diketahui keberadaannya itu telah mengirim kotak pandora yang sama kepada seorang temanku.

Sahabatku ini sedang mengeluh tentang pengkhianatan yang baru saja didapatkannya. Entah tentang cinta, teman, atau keluarga, aku tak tahu. Tiba-tiba dia tersedu-sedan. Tapi sayangnya aku tak bisa membantunya memenuhi suatu keinginannya.

Dia ingin keluar dari bata-bata yang sudah tersusun rapih dan menghalangi pandangannya. Ingin berteriak ditengah gurun yang tak berujung agar semua kekesalannya termuntahkan. Luluh lantah bersama debu-debu kekejaman. Berlari sekencang-kencangnya tanpa alas kaki menuju ujung dunia untuk menusukkan pedang kesakithatiannya kepada siapa saja yang menghalanginya. Menghalangi jalan hidupnya yang terang benderang bagai Venus ketika matahari bersiap-siap mewarnai dunia. Agar waktu tetap berdentang menuju akhir jaman.

Sebentar, aku sedang membayangkan wajah manisnya yang terbingkai kekesalan. Merungut kulit mukanya sehingga semakin terlihat jelas seperti marmut yang mengunyah sawi hijau. Tapi sayur kesukaannya itu telah ternoda. Noda-noda gila yang tak kenal ampun dan tak tahu diri membercaki hatinya yang bersih.

Tahukah dunia kalau dia menangis?

Tidak, dia tidak peduli. Karena dari atas awan yang terlihat hanyalah seorang wanita belia yang sedang membelah sayur-sayuran yang telah ternodai tadi. Mencacah onggok-onggok bumbu dapur dengan hingar bingar pelampiasan pengkhianatan.

Apa yang sudah tercipta dari kekesalannya?

Semangkuk penuh CAPCAI. Aneh memang, tapi sudah kukatakan padanya kalau tak ada yang lebih baik dari kelezatan masakannya yang dimasak dengan sepenuh hati. Pelampiasan yang agak bodoh.

Dan aku semakin heran dengan nafsu makan orang-orang yang kesal. Kenapa mereka seenaknya saja bisa melahap begitu banyaknya makanan?

Ah, suatu saat aku harus mencobanya.

 

 

*BAD MOOD*

*makancapcai*

 

13 komen sejauh ini

  1. Effendi on Maret 13, 2008

    *mikir CAPCHA buat blog*

  2. hanggadamai on Maret 13, 2008

    capcay…
    jadi laper :mrgreen:

  3. almascatie on Maret 13, 2008

    :lol:

    kayaknya seperti kamu deh..suatu saat aku ingin mencobanya

  4. adit-nya niez on Maret 13, 2008

    Saya sudah kenyang… :mrgreen:

  5. fauzansigma on Maret 14, 2008

    PENGKHIANATAN….
    KEJAM… KEJAM…. SUNGGUH KEJAM,,sampai2 makan jadi berlebihan, utk wanita biasanya

  6. tukangkopi on Maret 14, 2008

    sedang meracau… :lol:

  7. stey on Maret 14, 2008

    saya kenyang dikhianati :((

  8. elyswelt on Maret 14, 2008

    jadi haru skesal dulu ya biar bisa makan sebanyak2nya :D

  9. Nazieb on Maret 14, 2008

    Ada Fu Yung Hai ndak?

  10. Ina on Maret 14, 2008

    Capcai itu isinya sayuran semua khan??
    saya nga suka sayuran, jd makasih tawaran na.

    *dicemplungin ke kuali capcai*.

    :D Semangat Moerz…!

  11. cK on Maret 14, 2008

    *nunggu ditawarin capcai*

  12. regsa on Maret 14, 2008

    rasa capcainya asin pasti ya mor ?

  13. Moerz on Maret 14, 2008

    ~Effendi: monggo…
    ~Hanggadamai: makan lah mas…
    ~Almascatie: bagaimana kalo bareng2.. hehehe….
    ~Adiet: saya ndak nanya… hohoho…
    ~Fauzan: lantas kamu ini wanita apa pria…
    ~Tukangkopi: monggo…
    ~Stey: dikhianati bisa kenyang? Aneh…
    ~Elyswlt: yang penting laper…
    ~Nazieb: emang saya tukang nasgor apa…
    ~Ina: hohoho… jadi doyannya apa mbak… ubi..
    ~Chika: nih mbak mau nggak… hohoho…
    ~Regsa: asin kena keringetmu…

Leave a reply