Six String Story (Eps.2)

Hawa dingin dengan halusnya membelai seluruh tubuhku. Pagi yang mendung. Maklum sedang musim hujan.

Uhuk..uhuk…” Suara batuk Emak masih sama. Begitu memilukan.

“Mau kemana Mur?” Tanya Emakku. Mungkin Emak heran melihat anaknya sudah rapih pagi-pagi begini, padahal sekolah libur. Aku sengaja tidak memberitahukan rencana untuk membarter suara semberku dengan sekeping receh. Nanti batuk Emak tambah parah memikirkan anaknya yang menyusuri pelosok Jakarta.

“Mau pergi sama temen ke Pasar Senen.” Jawabku.

Uhukk.uhuk… Oh, ya udah hati-hati. Pulangnya, uhuk..uhuk.., jangan malem-malem.”

“Iya Mak. Kan ada Yanto yang jagain Emak.” Yanto, adikku yang tak lulus SMP sekarang terpaksa dirumahkan oleh keluargaku. Tak ada biaya yang cukup untuk meneruskan kejenjang selanjutnya. Malahan Ijazah Paket B nya belum diambil. Kalau aku sudah kerja nanti pasti aku akan menyekolahkan dia lagi.

“Assalamu’alaikum” Aku lalu setelah salim ke Emak sambil berdoa supaya Emak cepat sembuh.

“Wa’alaikum salam.”

Mataku masih sayu, padahal sudah jam 9. “Hei pemalas! Pergi sana, temanmu menunggu lama nanti.” Terpaksa aku mengomeli diri sendiri. Gontai memang, tapi ada semangat yang membara dibalik langkahku menuju stasiun.

*****

Kereta yang berbeda

“Oi, Mur!! Dimari nih..!!” Suara temanku bergema di atas peron yang lumayan berdesakan di Stasiun Kranji.

“Gimana lagunya? Udah apal belom?” Tanyanya.

“Wah, agak-agak susah sih. Soalnya gue kaga pernah dengerin lagu begituan.” Elakku.

“Udah gak papa, yang penting kuncinya.”

“Kalo kunci mah gampang. Gue kan ponakannya Yngwie.” Kataku sambil cengar-cengir.

“Ok..ok.., sip.” Diiyakan saja oleh temanku ini. Padahal dia tak tahu siapa Ynwie J. Malmteen, gitaris yang horror itu. Maklum gitaris yang dia sukai cuma Jarwo Naif, kumisnya mirip ayahnya ketika muda dulu.

Kami duduk menunggu KRL tujuan Kota bersama pedagang permen-rokok-tisu, pedagang buah naga, 2 anak kecil yang memegang sapu ijuk patah sumber rezekinya untuk menyapu lantai kereta, pedagang lampu senter murahan yang katanya berkualitas dan seorang penyanyi buta yang sedang membetulkan kaset Rama Aipama.

“Tuutt..tuuutt…” Itu dia keretanya. KRL sesembahan para gembel dan orang-orang JABODETABEK yang masih keberatan menyisihkan 1.500 rupiah untuk berkeliling Jakarta. Para penumpang yang naik turun saling tumpang tindih tak ada yang mau mengalah.

Pukul 10.30. Gerbong-gerbong berantai jam segini agak lengang karena masa sibuk berlalu pukul 7 sampai 9. Kalau melihat kereta jam-jam segitu sangat menyedihkan, lucu dan kesal terhadap pemerintah yang seolah tak perduli dengan para penumpang yang seperti jerawat ingin pecah sampai bergelayutan didepan pintu gerbong dan atap kereta. Kalau kecelakaan, mereka yang berdasi itu tak mau tanggung. Bagaimana tidak mau naik diatas kalau terpaksa karena kereta ini tak cukup ruang?

Setelah menyeruak kedalam temanku langsung menyandang gitarnya sambil berteriak, “Selamat pagi ibu-ibu, bapak-bapak, saudara-saudara. Mohon maaf bila mengganggu, terimalah sajian musik kami untuk menemani perjalanan anda.” Sapaan akrab itu sebelumnya hanya kudengar dari orang-orang yang tak kukenal.

Mur, Nidji yang Biarlah udah apal kan?” Tanyanya.

“Udah.” Aku lalu ikut menyandang gitarku dan meletakkan jari-jari kurus diatas fret dekil ini.

“1, 2, 3..” Dan dimulailah pertunjukan ini.

Tapi engkau terus pergi
Tapi engkau terus berlari
Jadi biarkanlah aku disini

*****

Kami turun di stasiun Pasar Senen. Berlari menuju pagar kereta karena akan segera di tutup. Kami tidak lewat pintu keluar karena tak punya tiket.

Diatas kereta tadi aku baru saja melewatkan masa-masa sulit, berusaha membunuh grogi. Baru pertama kali aku berada dalam posisi penghibur. Sering kali salah kort dan sedikit sekali bernyanyi, lebih tepatnya berbisik malahan. Temanku yang sudah professional wajar-wajar saja karena dia dulu juga begitu.

“Entar juga biasa.” Hiburnya.

Kereta yang tadi kami pijak berlalu kembali menuju Stasiun Kota. Menjalar diatas rel panjang dengan beban bermacam-macam jenis. Didalam tubuh ular besi itu terdapat orang-orang Indonesia dari berbagai suku. Mereka memenuhi Jakarta untuk mencari kerja yang enak dan dapat duit yang banyak. Terjerumus kedalam lembah nista Ibu Kota yang amburadul.

Pedagang-pedagang yang kumal dengan tas pinggang yang sletingnya dol menyembunyikan wajah sedihnya karena dagangannya baru laku sedikit. Koran, jeruk mandarin, tahu sumedang, air mineral, jepitan rambut, permen-rokok-tisu, kondom selular, buku mewarnai, buku memasak, stiker, lem tikus, korek api senter dan seabreg dagangan lainnya. Hanya satu yang mereka harapkan, dagangan laris agar mereka bisa makan rendang diwarung padang dipangkalan koasi. Bosan rasanya hanya mencicipi sedikit bumbunya ditemani perkedel dan sambal hijau saja, padahal hanya sekali makan dalam sehari. Sorenya hanya ngopi, ngutang pula.

Anak-anak kecil yang menaruh amplop kosong dipangkuan penumpang berharap ketika dia ambil kembali sudah terisi uang. Pengamen yang hanya sendiri, berdua atau berdelapan berjubelan bolak-balik sana-sini. Dari yang normal, sehat wal’afiat, bertongkat karena buta, kaki atau tangannya buntung sampai mereka yang rela menyeret tubuhnya karena lumpuh sambil menedengkan tangannya. Pencopet-pencopet sialan yang memiliki sejuta alasan jika tangannya yang merogoh kantung sang korban teridentifikasi sang pemilik saku celana. Kalau beruntung mereka dapat 4 dompet dan 3 ponsel. Kalau tidak mereka berlari keluar gerbong sambil berdoa agar tidak berakhir babak belur, pingsan dan ketika bangun sudah berada di akhirat.

Itulah pemandangan diatas kereta. Bermacam-macam warna. Selama ini ketika berada dalam posisi penumpang, aku merasa iba kepada mereka. Terus-menerus bersyukur karena meskipun tinggal dengan keluarga yang sangat sederhana ternyata masih lebih beruntung daripada mereka yang setiap malam tidur ditrotoar. Tapi hari ini, aku merasakan hal yang luar biasa. Menjadi bagian dari mereka yang memperebutkan kemurahan hati para penumpang. Menjadi pengamen yang sering dimaki-maki karena menyanyikan lagu Kangen Band.

Kereta ini sungguh berbeda. Tujuanku bukanlah suatu tempat yang tertera di karcis. Melainkan segenggam uang yang berusaha kukumpulkan untuk emakku tercinta.

Mur! Ayo naik bus yang itu aja!”

Ah, ini dia. Masih panjang perjalanan kami rupanya. Dari sini kami menyusuri Tugu Tani menuju Monas dan menghampiri Blok M sampai suara yang cempreng ini semakin serak menjadi-jadi.

*****

21 komen sejauh ini

  1. Anonymous on Februari 15, 2008

    Moerz Moerz, ente nih asli pejuang…
    Ok banget ceritanya, seru dan inspiratif sekali,
    Salut salut..

  2. rumahkayubekas on Februari 15, 2008

    Lho koq Anonymous sih?

    Moerz Moerz, ente nih asli pejuang…
    Ok banget ceritanya, seru dan inspiratif sekali,
    Salut salut..

  3. goop on Februari 15, 2008

    syaluth tuan, tetap semangadh…
    ________________________________
    dan saya suka detail dalam kereta itu
    *menjura*

  4. adit-nya niez on Februari 15, 2008

    Aku jadi inget swaktu naik kereta yg keadaan didalamnya bener2 gak manusiawi…

  5. qzink666 on Februari 15, 2008

    keren, bro..
    Sangat detail, sampe-sampe saya benar-benar merasa ada disana, menjadi bagian dari hiruk-pikuk itu.. :D
    *menunggu lanjutannya*

  6. Cabe Rawit on Februari 16, 2008

    wuiiih, ane kok ngerasa jadi pelaku ini cerita ya? Hebat bang… kapan ane bisa nulis dengan mengalir kayak begini :cry:

  7. makemesure on Februari 17, 2008

    Ceritanya betul2 mendeskripsikan keadaan yang sebenarnya, bahkan sempat membawa saya ke suasana di stasiun kereta pasar senen [padahal saat baca postingan ini saya sedang di subang, bergulat dengan sulit nya soal ujian yang harus dijawab]

  8. 'K, on Februari 17, 2008

    *terhanyut*
    tob bgt dah ah

  9. cK on Februari 17, 2008

    deskripsi yang bagus. saya ikut terhanyut dalam cerita ini. ga minat bikin novel? :-?

  10. Payjo on Februari 17, 2008

    Rhoma Irama bilang, Hujan Dit!! semoga :mrgreen:

  11. jumawa on Februari 17, 2008

    setting nya jakarta sih jadi gak ngerti :?

    *liat atlas sampe pusing*

  12. hanggadamai on Februari 17, 2008

    bacanya udh kaya baca novel mas,
    ato mang udh dinovelin ya mas..
    *gak ngerti*

  13. mbelgedez on Februari 17, 2008

    Kapan-kapan maenin Rising Force, ya Moerz….

  14. MOHON MAAP KOMENTAR ANDA TIDAK BISA SAYA BALAS..

    SEMUANYA AKAN SAYA KONfIRMASI NANTI…

    SALAM..

    terima kasih..

  15. ridhocyber on Februari 17, 2008

    keren oi ceritanya…

    di bukukan dong…

  16. Sawali Tuhusetya on Februari 17, 2008

    wah, piawai juga mas moer bikin cerita. ini nyata atau fiktif, sih, hehehehe :lol: ceritanya akan makin menarik jika konfliknya makin dipertajam. kisah nyata diangkat pun nggak masalah kok, tapi kekuatan imajinasi mampu membuat cerita memiliki daya tarik dan daya pikat. ayo, semangat.

  17. tikabanget™ on Februari 18, 2008

    “Menjadi pengamen yang sering dimaki-maki karena menyanyikan lagu Kangen Band.”

    iya..
    kenapa mereka harus menyanyikan kangen band?

  18. duniaichigo on Februari 18, 2008

    salut, imajinatif banget ceritanya

    *nunggu kelanjutannya*

  19. Nazieb on Februari 18, 2008

    Weleh, ini cerita apa iklan untuk tidak naik KRL
    :P

  20. stey on Februari 18, 2008

    MAs..kalo Disco LAzy Time-nya Nidji bisa?

  21. tukangkopi on Februari 19, 2008

    gw jadi minder sama elo Moer.. :(

Leave a reply