Archive for Februari, 2008

Aku Jatuh Cinta

imgbanner.jpg

Aku tidak mengenalnya, tidak juga berani berkenalan dengannya. Delapan belas tahun hidup tanpa pernah menjalin asmara membuatku menjadi seorang pecundang. Tak bisa mengucapkan sepatah katapun di hadapannya.

Apa aku harus merangkai sebuah puisi diatas kertas merah hati dan menghiasinya dengan sekuntum mawar hanya untuk mendapatkan namanya? Cara yang amat kuno, bertele-tele, dan kekanak-kanakan. Sok romantis.

Aku benci perasaan ini, seperti seekor kambing tuli yang tidak peduli dengan teman-teman serumputnya yang sudah dikebuli. Berangan-angan memiliki sayap dan terbang setinggi-tingginya. Anak kecil bodoh yang mencoba menggapai sebuah sisi kedewasaannya.

Sudahlah, biarkan aku menatapnya dari kejauhan. Memandang wajah indahnya yang terbingkai jilbab putih itu. Bersembunyi dibalik dinding, mencuri kesempatan mendapatkan sinarnya. Dan biarlah kusimpan perasaan ini.

Jika Tuhan telah menakdirkannya sebagai jodohku, suatu hari nanti aku akan membawakannya sebuah mahar, mengajaknya menuju bahtera rumah tangga dan hidup damai di atas Firdaus.

Childhood Night

Dulu aku sering berjalan-jalan bersama teman-teman pengajianku sepulang dari Yasinan di aula RW. Menjamah sawah ladang yang masih tak berujung untuk mencari siput-siput kecil yang keluar dari persembunyiannya. Walau hanya ditemani kaleng-kaleng bolong pelindung lilin sebagai penembus gelap, semangat kami tak pernah padam.

Ketika itu kami berharap mendapat hasil yang banyak untuk ditimbun di tumpukan sampah yang sedang dibakar. Dan buasnya rasa lapar terwujud dalam ganasnya tangan-tangan yang merombak onggokan arang hitam untuk memperebutkan siput-siput imut yang kini sudah kiut itu. Berbagai macam cara memakannya, dicungkil dengan lidi, di pecahkan ujung cangkangnya atau langsung diseruput saja. Ditemani kecap manis yang sudah dicampur potongan cabai bawang atau di taburi garam saja rasanya sudah sangat nikmat. Bayaran yang setimpal dengan pengorbanan kami yang telah mengotori tubuh ini.

Rumah-rumah kecil kami berhimpitan di pinggir sawah. Di belakangnya terhampar lapangan tempat kesebelasan desa kami berlatih setiap selasa dan kamis sore. Disana ketika senja sudah lewat kami sering menghabiskan waktu untuk bermain Getok Lele atau bola api. Berlari-lari ceria tak kenal lelah meski orang tua kami cemas bukan main takut anak-anaknya yang baru masuk Sekolah Dasar itu tertusuk paku atau beling. Tapi anak-anaknya tetap saja nakal.

Kadang kalau kami bosan mencari siput atau sedang malas bermain kami memanjat pohon-pohon besar untuk memandang indahnya langit kelam. Memanjat dahan-dahan kokoh dan berbaring disana sambil memakan buah yang langsung kami petik dari atasnya. Meski gelap gulita kami tetap ngotot menerobos kegelapan malam dan mendesak daun-daun yang rindang. Sungguh takjub melihat kebesaran Tuhan diatas sana.

Malam ini, ketika 8 tahun berlalu dari masa-masa itu, aku berdiri di tengah jalan raya yang dipenuhi hiruk-pikuk kesombongan kota besar ini. Mengenang sawah yang sudah tertutup gedung-gedung nista dan lapangan hijau yang sudah berlapis aspal ketamakan. Ditemani rintik hujan yang tidak peduli dengan perihnya hati seorang miskin yang tidak bisa melindungi alamnya.

Kami kalah dengan gergaji-gergaji mesin yang memapas pohon-pohon tempat kami memandang bulan yang bersembunyi di balik awan-awan tebal di atas dahan kuatnya. Kami kalah dengan roda besi besar yang melindas sawah dan lapangan kami. Bukan karena kami pengecut, tapi memang kami tak berhak sama sekali untuk memberontak. Tanah-tanah Tuhan itu dengan seenak udelnya sendiri mereka sertifikasi dengan cap resmi pemerintahan. Pejabat gendut tak punya otak.

Ketika memandang kota diatas jalan layang tinggi ini, terbesitlah rasa kasihan terhadap anak-anakku kelak kalau aku sudah mempunyai keturunan nanti. Mereka terpaksa kubawa kedalam mesin-mesin penghibur karena sudah tak ada lagi lapisan tanah murni yang bisa mereka pijak untuk tempat berlari. Mereka takkan bisa merasakan sejuknya udara jernih dibawah pohon rindang tempat aku dan teman-temanku dahulu menikmati nurani Tuhan. Mereka tak bisa lagi menjamah indahnya alam.

 

*****

Surat Untuk Pembangkang Di Atas Altar

Hei kawan, ingatkah kau ketika kita berjalan menuju tempat yang tidak diketahui orang?  Jauh disana kau ajak aku berlari dari keramaian, menghindari belukar penghianatan.

Aku tahu kau benci keluargamu yang tak pernah sedikitpun menyisihkan waktunya untuk berbagi kasih sayang. Selalu dipukuli ketika kau membangkang. Padahal kau hanya mengharapkan sebuah perhatian orangtua terhadap anaknya. Sedikit saja kau tak pernah mendapatkannya. Lalu bertanya-tanya kenapa mereka baru merasa kau sangat berarti ketika kau pergi dari kehidupan mereka.

Tapi sayang aku tak bisa lama menemanimu. Aku juga punya kehidupan sendiri. Jadi kau kutinggalkan sendiri. Dibalut kesepian kubiarkan kau hidup sebatang kara.

Hari ini, setelah bertahun-tahun aku tak tahu rimbamu di seberang sana, tiba-tiba seekor merpati putih hinggap diatas gubukku. Dia membawa surat indah bercorak hati yang dililit tangkai mawar. Benarkah ini? Aku tak percaya kau akan menikah setelah trauma berkepanjangan terhadap keluargamu dulu, setelah memutuskan untuk menjadi seorang pembangkang. Gadis mana yang dapat meluluh lantahkan hatimu? Anak sialan yang tak tahu diri.

Tapi maaf kawan, aku tak bisa datang ke acara pemberkatanmu. Bukan karena kita berbeda keyakinan, tapi ini murni karena ketiadaan biaya untuk pergi ke sana. Kau tahu sendiri kan kehidupan keluargaku. Yang penting adalah doaku agar kau dan gadismu itu saling setia. Berjanjilah diatas altar itu kalau kau punya anak nanti jangan biarkan kehidupannya seperti kehidupanmu yang lalu. Berjanjilah dihadapan Tuhan kau akan menjadi kepala keluarga yang baik.  

Selamat menempuh hidup baru kawan dan semoga kau bahagia selalu.

 

Salam rindu

Kawanmu yang tetap tampan^^

 
P.S. : Orangtuamu menitipkan restunya, mereka masih merindukanmu.

 

Temen Chatting?

blogg.jpg

Diwarnet

~Liat ke kiri :
cewek chatting sama cowok

~Liat ke kanan :
cowok chatting sama cewek

~Liat ke belakang :
anak sekolahan cari-cari kenalan

~Liat ke komputer sendiri :
“Kenapa listnya gak ada yang berdedikasi untuk melepaskan dahaga cinta?”
“Kenalan lo gitu..?”
“Atau temen cewek lo?”

BODO AMAT….
Yang penting gue gak gombal….

Halaman Berikutnya »