Dulu aku sering berjalan-jalan bersama teman-teman pengajianku sepulang dari Yasinan di aula RW. Menjamah sawah ladang yang masih tak berujung untuk mencari siput-siput kecil yang keluar dari persembunyiannya. Walau hanya ditemani kaleng-kaleng bolong pelindung lilin sebagai penembus gelap, semangat kami tak pernah padam.
Ketika itu kami berharap mendapat hasil yang banyak untuk ditimbun di tumpukan sampah yang sedang dibakar. Dan buasnya rasa lapar terwujud dalam ganasnya tangan-tangan yang merombak onggokan arang hitam untuk memperebutkan siput-siput imut yang kini sudah kiut itu. Berbagai macam cara memakannya, dicungkil dengan lidi, di pecahkan ujung cangkangnya atau langsung diseruput saja. Ditemani kecap manis yang sudah dicampur potongan cabai bawang atau di taburi garam saja rasanya sudah sangat nikmat. Bayaran yang setimpal dengan pengorbanan kami yang telah mengotori tubuh ini.
Rumah-rumah kecil kami berhimpitan di pinggir sawah. Di belakangnya terhampar lapangan tempat kesebelasan desa kami berlatih setiap selasa dan kamis sore. Disana ketika senja sudah lewat kami sering menghabiskan waktu untuk bermain Getok Lele atau bola api. Berlari-lari ceria tak kenal lelah meski orang tua kami cemas bukan main takut anak-anaknya yang baru masuk Sekolah Dasar itu tertusuk paku atau beling. Tapi anak-anaknya tetap saja nakal.
Kadang kalau kami bosan mencari siput atau sedang malas bermain kami memanjat pohon-pohon besar untuk memandang indahnya langit kelam. Memanjat dahan-dahan kokoh dan berbaring disana sambil memakan buah yang langsung kami petik dari atasnya. Meski gelap gulita kami tetap ngotot menerobos kegelapan malam dan mendesak daun-daun yang rindang. Sungguh takjub melihat kebesaran Tuhan diatas sana.
Malam ini, ketika 8 tahun berlalu dari masa-masa itu, aku berdiri di tengah jalan raya yang dipenuhi hiruk-pikuk kesombongan kota besar ini. Mengenang sawah yang sudah tertutup gedung-gedung nista dan lapangan hijau yang sudah berlapis aspal ketamakan. Ditemani rintik hujan yang tidak peduli dengan perihnya hati seorang miskin yang tidak bisa melindungi alamnya.
Kami kalah dengan gergaji-gergaji mesin yang memapas pohon-pohon tempat kami memandang bulan yang bersembunyi di balik awan-awan tebal di atas dahan kuatnya. Kami kalah dengan roda besi besar yang melindas sawah dan lapangan kami. Bukan karena kami pengecut, tapi memang kami tak berhak sama sekali untuk memberontak. Tanah-tanah Tuhan itu dengan seenak udelnya sendiri mereka sertifikasi dengan cap resmi pemerintahan. Pejabat gendut tak punya otak.
Ketika memandang kota diatas jalan layang tinggi ini, terbesitlah rasa kasihan terhadap anak-anakku kelak kalau aku sudah mempunyai keturunan nanti. Mereka terpaksa kubawa kedalam mesin-mesin penghibur karena sudah tak ada lagi lapisan tanah murni yang bisa mereka pijak untuk tempat berlari. Mereka takkan bisa merasakan sejuknya udara jernih dibawah pohon rindang tempat aku dan teman-temanku dahulu menikmati nurani Tuhan. Mereka tak bisa lagi menjamah indahnya alam.
*****