Kereta Terakhir di Stasiun Blogsphere

Aku berdiri memandang nisan seorang teman yang baru saja meninggalkan blogsphere maha luas ini. Memandang tak percaya bahwa kematian di dunia maya pun bisa terjadi kapanpun. Padahal dia baru beberapa bulan ini terlahir hampir berbarengan denganku. Ahya, kematian. Sudahlah.
Dengan penuh kesedihan aku meletakkan bunga dan berlembar-lembar surat dari beberapa sahabatnya yang ditulis dengan gaya bahasa aneh dan uniknya di samping makamnya yang harum itu. Sampai jumpa kawan. Semoga kau segera terlahir kembali.
Lalu aku berjalan menuju suatu perbatasan dimana semuanya terpisah. Nyata dan fiksi. Aku berjalan menuju stasiun blogsphere. Berat rasanya untuk memesan tiket perjalanan pulang ke dunia nyata di loket logout. Tapi demi suatu hal yang amat penting akhirnya aku putuskan untuk mendapatkan tiket itu. Rasa bimbang tak kunjung juga hilang sampai ketika berada di depan pintu sempit menuju peron.
“ Maaf tuan, apa ada yang salah ? “ Tiba-tiba sang penjaga pintu bertanya.
“Oh, tidak. Semuanya baik.” Jawabku dengan enggan.
“Mereka yang lain juga sama seperti tuan.” Si penjaga pintu itu berkata penuh senyum.
“Ohya? Sama bagaimana maksud anda?” Tanyaku.
“Yah, sama. Persis. Merasa berat meninggalkan dunia yang penuh kata ini. Bahkan ada yang sampai bolak-balik untuk meminta izin kepada teman-temannya yang menyayangkan kepergiannya.” Raut mukanya berubah sedih. “Tapi akhirnya mereka naik ke kereta mereka dan duduk di gerbong yang penuh tanda tanya itu. Beberapa dari mereka ada yang datang lagi kesini sedangkan yang lainnya belum datang. Tak ada yang tahu tuan. Itu kehendak mereka masing-masing. ” Dia berhenti berucap dibarengi suara kepulan asap kereta yang sudah siap berangkat.
“Siapa saja yang memesan perjalanan pulang hari ini?” Tanyaku lagi.
“Sepertinya hanya tuan seorang. Belum ada yang melewati pintu ini dari tadi” Jawab si penjaga.
“Boleh saya memesan sesuatu?” Terlintas sebuah pikiran di kepalaku.
“Silahkan tuan.”
“Mungkin permintaan ini agak berat. Begini, saya mau anda cegah setiap orang yang ingin melewati pintu ini setelah saya pergi. Agar dunia di belakang saya masih tetap ramai.”
“Bukankah itu wewenang pribadi setiap penghuni blogsphere? Saya tidak berani tuan. Maaf.” Tolaknya penuh maaf.
“Itu memang benar. Ahya, begini saja untuk beberapa minggu ini sebaiknya tidak ada kereta yang diberangkatkan dari sini sampai saya kembali. Supaya dunia ini tetap ramai, biarkan saya yang hina ini saja yang pergi.” Tak sadar aku berkata penuh paksaan.
“Hmm…” Si penjaga berpikir sejenak. “Baiklah tuan akan saya usahakan. Akan saya sampaikan ke kepala stasiun.”
“Bagus. Jangan lupa sampaikan pesan saya tadi kepada mereka kalau mereka ingin pergi juga. Setidaknya setelah saya kembali.” Fiuh, Akhirnya aku melewati garis perbatasan ini.
“Semoga perjalanan anda menyenangkan tuan. Saya akan menunngu kedatangan tuan kembali. Teman-teman tuan disini juga akan merindukan tuan.” Si penjaga terlihat senang.
“Terima kasih, sampai jumpa lagi. Saya pasti kembali.”
Dan aku berbalik memunggungi penjaga itu. Naik keatas gerbong dan akhirnya duduk tenang di atas kereta yang mulai bergerak ini. Entah kapan aku kembali….
~ Sampai Jumpa ~
Comments(34)








