Archive for September, 2007

Semangkuk Bubur Ayam

Beberapa bulan yang lalu, Yanto seorang murid biasa di sekolahnya, diajak berlibur oleh teman sekelasnya, Sela, ke Bandung. Banyak hal yang terjadi disana dan banyak juga makanan yang tersedia. Diantara banyak makanan yang tersedia disana yang paling enak dan tidak terlupakan adalah bubur ayam yang penjualnya adalah tetangga Sela sendiri. Sayang Yanto hanya makan satu kali saja sampai dia pulang kerumahnya.

Beberapa bulan kemudian karena Yanto ingin merasakan bubur ayam lagi sejak dia di Bandung, dia mencarinya dan berusaha mendapatkannya dirumah, di sekolah dan dimana saja. Tapi sampai hari terakhir sekolahnya menjelang libr Ramadhan dia belum mendapatkannya.

Pagi hari dirumahnya ketika ibunya sedang masak dan dia seperti biasa membantunya. Yanto bertanya pada ibunya apakah kalau bulan Ramadhan bubur ayam ada yang jual. Ibunya bilang, sepertinya kalau pagi tidak ada. Berarti dia harus menunggu satu bulan lebih supaya bisa makan bubur ayam itu. Hari itu adalah hari terakhir sebelum puasa. Tiba-tiba ibunya pergi menitipkannya masakan yang belum matang agar dilihat-lihat kalau sudah matang lalu diangkat. Sekembalinya sang ibu, ditangan ibunya sudah ada semangkuk bubur ayam untuknya. Betapa senangnya Yanto yang sudah lama mengidam-idamkan makanan itu akhirnya bisa mendapatkannya. Diapun langsung melahapnya. Ibunya memperhatikannya dengan raut muka yang amat puas dan senag. Yanto tersadar setelah bubur itu habis dimakannya, ia amat senang sekali, bukan karena bubur ayamnya yang sangat lezat tetapi karena ibunya, yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang padanya.

TERIMA KASIH IBUKU…….

AKU SAYANG IBU………….

PERHITUNGAN YANG TIDAK TEPAT

1) 05:15 => Bangun tidur

2) 05.45 => Siap Berangkat

3) 05.50 => Sampai tahap ini sudah siap

Jarak dari rumah kesekolah saya kira-kira 5 Km. Sebenarnya saya sudah biasa untuk berjalan kaki sampai sekolah.

Hari ini, 11 September 2007 hari Selasa. Hati saya merasa bimbang sampai waktu ketiga. Apakah ingin jalan atau naik angkot seperti biasa. Diperjalanan saya masih berada dalam pertempuran yang sangat rumit (terlalu melebih-lebihkan).

4) 06.00 => Ditempat biasa menunggu angkutan umum

Akhirnya setelah melihat jam di sebuah warung dan memang saya sudah keluar jalur pejalan kaki, saya memutuskan diri untuk naik angkot saja. Yang namanya angkot pasti sumpek kalau pagi-pagi. Maklum kegiatan hari itu baru dimulai. Angkot yang saya tumpangipun penuh sesak sampai depan pintu angkot bahkan ada yang bergelantungan. Saya memutuskan untuk menuju rumah teman saya terlebih dahulu agar tidak terlalu pagi sampai sekolah. Sangat tidak enak sekali berada dalam kondisi seperti itu.

5) 06.35 => Turun dan menuju

Sebenarnya saya malas bilang “Kiri Bang”, karena saya duduk dibelakang supir, tepat sekali, penuh sesak sehingga malas turun. Tapi untung sampai depan gang rumah teman saya ada seorang ibu yang ingin turun juga.

Sampai dirumah teman saya terpaksa sepi sekali bahkan gorden rumahnya ditutup.

Saya panggil namanya 3 kali.

Saya tunggu sampai 10 menit.

6) 06.50 => Akhirnya saya berangkat juga. SENDIRI.

7) 07.00

Kalau begini saya jalan kaki saja……….ARGHHHHH………

Banyak waktu yang terbuang hanya untuk memikirkan dan memutuskan. Kalau saya cepat dalam berpikir tidak akan serumit ini jadinya. Rencana yang matangpun belum tentu dapat dilaksanakan dengan baik. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Assalamu’alaikum…

Assalamu’alaikum……

Yah…. Tulisan bisa membuat anda menjadi apapun…..

Jadi, saya mau memulai menjadi “APAPUN” tersebut….

Hihihihiiih…….

Wasalamu’alaikum