Myresource


Tiket Hitam Blogspherexpress
Maret 31, 2008, 7:52 pm
Diarsipkan di bawah: Fictionable, Storycal
blogimgtiket.jpg


Aku sedang duduk santai di dasbord sambil membaca komentar-komentar baru yang selalu sepi. Ada pesan yang tersangkut akismet hari ini. Tukang pos yang tega menyaring pesan yang menurutnya mengandung sesuatu yang tak pantas dipublikasikan kecuali dengan persetujuan sang pemilik rumah. Jarang sekali ada komentar yang tersangkut di sini, sehingga aku agak malas mengeceknya.

Dengan segan kurobek bungkus surat itu dan membacanya di atas sofa empuk satu-satunya di dasbordku. Ternyata dari seorang sahabatku yang tidak hidup di dunia maya ini.

~ SeeYou ~



Wanita dan Emansipasi Mereka
Maret 28, 2008, 11:19 pm
Diarsipkan di bawah: IDEA
wahtsa.gif

Wanita sangatlah indah. Mereka diciptakan begitu menarik sampai kaum Adam rela berlutut untuk mendapatkan cintanya. Padahal Sang Hawa hanya terbuat dari sebatang rusuk yang menyangga daging-daging rapuh yang kesepian. Diciptakan dengan penuh rahmat. Mereka diperintahkan untuk menjaga auratnya. Dan mereka pasti menuruti-Nya, setidaknya kalau iman masih membentengi mereka.

Emansipasi, itulah senjata yang melindungi wanita-wanita saat ini. Saat jaman semakin membusuk dan tak tahu arah. Mereka memperjuangkan kesamaan derajat dengan kaum pria dalam segala bidang. Melepaskan diri dari belenggu-belenggu peraturan yang menurut mereka nista. Hal yang membebaskan mereka untuk lepas berekspresi tanpa batas.

Arti emansipasi bagi wanita menjadi berubah makna. Bebas berekspresi bukan berarti memereteli atribut kehormatan mereka agar menjadi lebih terpandang. Merusak moralitas yang semakin bobrok tanpa menyadari berlebihannya sensualitas yang dipamerkan kepada khalayak luas. Mereka lebih mendewakan dan berpegang teguh terhadap pendirian yang jelas-jelas salah.

Sedikit sekali wanita sekarang yang menghargai pemberian Tuhan saat ini. Mereka rela memamerkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya tidak boleh terlihat. Dan kotornya lagi mereka menghalalkan materi yang mereka terima. Padahal sangatlah haram menciptakan uang dengan cara yang buruk. Menyalahkan pria yang mencolek kemolekan tubuhnya yang terbuka. Percayalah tak ada pria yang tergoda birahinya jika bukan karena melihat wanita-wanita yang berseksi ria. Kecuali otak mereka sudah tak berfungsi lagi karena tertutup rayuan setan. Bahkan wanita-wanita menjegal balik orang-orang yang mencekal perbuatannya yang tak senonoh. Bukan berarti mereka yang mencekal sok peduli atau tidak mempedulikan hal lain yang lebih penting untuk dikritisi. Sekadar memberikan jalan agar mereka berintrospeksi.

Sayang, hal-hal yang berbentuk kepedulian di dalam pikiran manusia modern sudah terbuang. Tergantikan oleh komersialisme yang menuntut siapa saja agar rela membanting kehalalan. Sehingga menyebabkan kesalahpahaman yang sama sekali bertolak maksud. Berdendang dan berelegi tentang kerusakan moral saja sudah bisa mewakili pemutarbalikkan fakta. Bahkan budaya asal yang harusnya terlekat erat tak bisa lagi menjadi media berekspresi yang lebih lumrah.

Maka kembalikan lagi kepada orangnya masing-masing. Jika wanita masih memiliki sifat dasarnya yang menghargai pemberian penciptanya maka mereka akan tersadar kembali. Bahwa akhiratlah tempat segalanya berakhir adalah senjata yang lebih ampuh untuk membombardir segala kerusakan iman.



40 Miles Ego
Maret 27, 2008, 4:04 pm
Diarsipkan di bawah: Fhym'z, Storycal

blogimgego.jpg

Apa yang kau lihat?

Kaki-kaki busuk penuh nanah, acuhkan saja meski jemarinya sudah tak lagi terasa. Teruslah berjalan lurus sampai kau ingat siapa yang memasukkan ruh kedalam jasad. Berapa harga yang kau tawarkan agar para malaikat mau menolong? Lupakan saja karena malaikat tak sudi menerima suapan apapun. Mereka murni bersujud pada Rabbnya. Tidak seperti kau yang mengumpat di belakang. Hatimu akan tetap tertutup dan tak akan pernah terbuka lagi. Karena malaikat di sisimu sudah jenuh. Bosan melihat kau yang selalu ingin menang sendiri. Individual, hedonis, tamak, dan tak peduli dulu kau seperti apa. Hanya tanah yang bergumul cacing. Ya, dan akan kembali berkawan cacing lagi nantinya.

Jangan berhenti !! Atau kau akan terus terbelenggu…



Celoteh Konyol Untuk Anak Guru Kami
Maret 24, 2008, 10:31 pm
Diarsipkan di bawah: Storycal

Sudah dua tahun ini Bu Yeni, wali kelas kami, di buat pusing oleh anak-anak asuhannya yang bengal-bengal. Kelas yang paling berisik di Sekolah Menengah Kejuruan tersohor di Bekasi. Tak pernah diam sampai-sampai kelas kami menjadi terkenal di kalangan guru dan hampir setiap hari menjadi topik obrolan dikala mereka berkumpul di ruang guru. Sebab hanya kelas kamilah yang berani menertawai guru matematika yang sangat sensitif ketika guru itu salah bicara.

Hari ini kami berkunjung ke rumah Bu Yeni. Bukan karena sudah kelewat liar sampai harus mengepel lantai rumahnya tetapi karena beliau baru pulang dari rumah bersalin. Melahirkan seorang anak manis yang sudah bosan hidup di dalam perut ibunya. Sehingga anak itu lahir melalui perut ibunya yang terbelah, bukan keluar lewat belahan yang lainnya.

Rumah ini tidak cukup besar untuk menampung sebagian kelas kami. Ditambah lagi murid-murid kesayangannya itu sangat pecicilan. Tetapi di balik keberingasan kami terdapat setumpuk doa untuk anak itu. Doa-doa yang agak sedikit konyol.

Di tengah obrolan asyik nan ramai Ringga, seorang anak kepala TU yang sangat dihormati berkata, “Lihatlah kawan, anak ini akan tampan seperti diriku.”

“Takkan tampan anak itu kalau dia sepertimu. Bercerminlah, begitu buruknya wajah kau. Terlalu banyak jerawat.” Tangkas Rio, teman kami yang paling besar ocehannya. Kontan kamipun terpingkal-pingkal.

“Biarlah wajahku agak buruk asal anak guru kita ini tak punya lubang hidung sebesar yang kau miliki. Lebih besar dari mulutmu yang menguap,” balasnya.

“Lebih besar mana dengan mulut Hanafi yang seperti Tukul itu,” Rozak, ketua kelas kami ikut berceloteh.

“Yang jelas janganlah giginya menjadi secemerlang Ramdan, silaunya mengalahkan sinar petromax,” kataku.

“Gigi bersinar lebih baik dari pada leher jerapah seperti kau,” balas Ramdan.

“Itu lebih nyaman daripada tak berleher seperti Setio,” teriak Hanafi. Kami langsung memandang kepala Setio yang langsung tersambung ke pundaknya. Dan tawa keras tak terbendung.

“Jangan dijemur saat tengah hari Bu!” Kata Aris serius.

“Kenapa memang?” Tanya Bu Yeni.

“Sudah terbukti Muklis adalah contoh hasilnya. Kulitnya selegam orang negro,” jawabku. Semakin berisiklah rumah itu dipenuhi tawa tak tahu diri.

“Masa menjemur bayi tengah hari bolong,” kata Bu Yeni seraya terkikik.

“Tak apa, anak ibu akan mewarisi jenggot saya yang indah Bu. Selebat hutan Amazon,” tangkis Muklis, “asal jangan menjadi tambun seperti Cepi,” lanjutnya.

“Kau akan lebih menyukai tubuhmu yang gembrot daripada suaramu tak jelas seperti Bobby,” kata Ilman.

“Hah… hurang agjar’ loh.” Mendengar bahasanya yang sulit dimengerti dan terlalu cepat diucapkannya, kami terpingkal sejadi-jadinya sambil memukul ubin.

Masing-masing dari kami menyadari kelemahan yang dimiliki setiap orang sehingga celaan tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari di kelas. Dan di balik itu semua, kami senang karena sudah menghibur Bu Yeni. Meski anaknya berkali-kali terbangun dari tidurnya karena tawa-bahak kami.